
MEMBALONG — Kemeriahan memperingati Hari Jadi Desa Membalong ke-105 mencapai puncaknya pada Jumat (26/6) siang. Sebagai bagian dari rangkaian Pesta Rakyat yang dinanti-nanti warga, Karnaval Budaya Desa Membalong sukses digelar dengan penuh warna dan antusiasme tinggi.

Dari deretan peserta yang berpartisipasi, kontingen dari SMPN 1 Membalong berhasil mencuri perhatian masyarakat serta para juri yang memadati area sekitar Lapangan Futsal Desa Membalong. Sejak pukul 14.00 WIB, lokasi tersebut telah berubah menjadi panggung megah bagi pertunjukan kearifan lokal yang hidup dan edukatif.
Alur Pertunjukan yang Rapi dan Sarat Makna
Dalam karnaval tahun ini, SMPN 1 Membalong mengusung tema besar: “Merawat Budaya, dan Melestarikan Kearifan Lokal Desa Membalong”. Tema tersebut diwujudkan secara konkret melalui pertunjukan teatrikal berjalan bertajuk “Ngetam Padi” (memanen padi).

Pertunjukan yang telah dipersiapkan matang ini dikemas dengan alur cerita yang sangat runtut:
-
Pembacaan Narasi oleh Lenni: Atraksi dibuka dengan khidmat lewat pembacaan sinopsis narasi oleh salah satu siswi, Lenni. Melalui pengeras suara, Lenni membacakan latar belakang filosofis dari tradisi agraris masyarakat Membalong, memberikan pemahaman mendalam kepada penonton sebelum pertunjukan dimulai.
-
Lantunan Pantun Daerah: Setelah narasi dibacakan, suasana hangat langsung tercipta lewat bait-bait pantun daerah dengan dialek khas Membalong. Tradisi lisan ini dilemparkan sebagai bentuk sapaan hormat sekaligus pengantar cerita.
-
Simulasi Kehidupan di Ladang: Musik dan gerakan pun dimulai. Mengenakan pakaian tradisional dan topi caping, para siswa-siswi dengan apik membagi peran:
-
Aksi Mengusir Burung & Orang-orangan Sawah: Salah seorang siswa tampil totalitas memerankan tokoh orang-orangan sawah di tengah ladang. Di sekelilingnya, sekelompok siswa melakukan gerakan dinamis menghalau hama burung yang hendak memakan padi.
-
Prosesi Menyabit Padi: Setelah ladang aman, replika padi dibawa ke tengah dan para siswa memperagakan gerakan menyabit (mengetam) padi secara tradisional menggunakan ketaman.
-
Proses Menapis Padi dengan Nyiru: Sebagai penutup siklus panen, seorang siswi memperagakan gerakan menapis atau memisahkan bulir padi dari tangkai dan kotorannya menggunakan properti nyiru (tampi), menyimbolkan rasa syukur atas hasil panen yang bersih dan melimpah.
-

Apresiasi untuk Tim Kreatif Nesamba dan OSIS
Di balik kesuksesan penampilan yang memukau ini, ada kerja keras luar biasa dari tim penyusun konsep dan pelatih yang tak kenal lelah. Pihak sekolah secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim Kreatif Nesamba yang digawangi oleh Bu Ros, Bu Sal, Pak Riki, dan Bu Yulan.
Dedikasi, waktu, dan energi yang dicurahkan oleh Tim Kreatif, berkolaborasi dengan semangat juang dari pengurus OSIS SMPN 1 Membalong, menjadi motor utama yang mengusahakan ide ini sejak masa latihan hingga akhirnya Tim Nesamba bisa tampil dengan begitu megah dan lancar di lapangan.

“Melalui narasi yang dibacakan Lenni, pantun, dan reka adegan ‘Ngetam Padi’ ini, kami ingin anak-anak bukan hanya tahu sejarah desa, tapi merawat langsung kearifan lokal kita agar tidak punah digilas zaman,” ujar perwakilan sekolah sembari mengapresiasi kerja keras seluruh tim official.
Kehadiran SMPN 1 Membalong pada perayaan HUT Desa Membalong ke-105 ini sekali lagi membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara guru dan murid, tradisi lama bisa tetap dikemas secara kreatif, keren, dan memukau di tangan generasi muda.
Tim Web Nesamba
